Home Umum Membuka Tabir Panorama Keindahan Kerinci

Membuka Tabir Panorama Keindahan Kerinci

by Rhobie
Kabupaten Kerinci

Membuka Tabir Panorama Keindahan Kerinci - Kabupaten kerinci adalah wilayah yang paling barat dari provinsi jambi, didirikan pada tanggal 10 november 1958 berdasarkan undang-undang darurat no 19 tahun 1967 (LN tahun 1957 No.75). luas wilayah kabupaten kerinci 4.200 Km2 atau 7,8% dari luas Provinsi Jambi.

Kabupaten Kerinci terdiri dari daerah pegunungan dataran tinggi dan dataran rendah merupakan renah (lembah), dilingkari oleh Bukit Barisan Pulau Sumatera. Dengan Keindahan Kerinci terdapat dua buah Gunung berdiri megah. Salah satunya menjadi lambang kejayaan Bumi Sakti Alam Kerinci. Diutara terdapat Gunung Kerinci (masih aktif) dengan ketinggian 3.805mdpl, merupakan gunung tertinggi di Pulau Sumatera. Sebelah Selatan terdapat Gunung Raya dengan ketinggian 2.159m dpl. Disamping itu Keindahan Kerinci bisa dinikmati karena beberapa danau yang menarik. Antara lain yang terkenal Danau Kerinci, Danau Gunung Tujuh dan Danau Kaco. Air terjun juga banyak terdapat di Kabupaten Kerinci yang tidak kalah menariknya di antaranya air terjun Pancaro Rayo, Air Terjun Pancaro Gading, Air Terjun Telun Berasap, Air Terjun Talang Kemulun dll. Keindahan kerinci selalu bisa dinikmati oleh para pecinta taraveling.

Asal usul Kata Kerinci

Kerinci mengandung pengertian kata ganda atau dua kata yaitu 'Kerin' dan 'Ci'. Diambil dari bahasa Sanskerta, Kata 'Krin' atau 'Khin' berarti hulu, sedangkan kata 'Ci' atau 'Cai' berarti sungai. Jadi 'Krinci' atau 'Kerinci' berarti 'Hulu Sungai'. Kerinci adalah hulu sungai, ini logis karena hulu sungai tempatnya di dataran tinggi pegunungan. Kerinci atau Kurinci dari kata India (Tamil) berarti perbukitan dan daerah pegunungan. Kerinci berarti juga negeri di awang-awang, dataran tinggi pegunungan, tempat-tempat yang jauh di hulu sungai.

Jika ditinjau dari fonologi pengertian kata kerinci lebih tepat berasal dari sebutan orang india (Tamil Kuno). Ini mengingat hubungan indonesia lebih dahulu berkembang dengan india dari cina. Menurut para ahli sekitar abad 2 SM sejarah menunjukan kebudayan Tamil telah maju sebelum kedatangan bangsa Aria dari Utara, dengan adanya kerajaan bangsa Tamil (Dravida) Mahenjodaro dan Harappa Sekitar 3000 SM. Berarti juga orang Tamil dari India Selatan mengenal baik daerah Kerinci pada permulaan abad Masehi sebagai penghasil Kemenyan (Stytah Benzuin Dryand), Cempaka (Michelea Cempaka), Kayu Sigi (Pinus Strain Kerinci), dll.

Kerinci yang dimaksud disini adalah daerah pegunungan sebagai hulu-hulu sungai mencakup Batang Merangin, Batang Asai, Batang Limun, Batang Tembesi, Batang Tabir, Batang Siau, Batng Bungo, Batang Tebo, Batang Alai, Batang Sangir, Lambai, Balangir dan Timbulun. Pemukiman Penduduk di daerah tersebut dinamai Malayalam, Malaiur datau Melayu, yang berarti negeri-neger diatas bukit atau gunung.

Berabad-abad kemudian kita tidak menemui keterangan tentang kerajaan di Kerinci. Berikutnya muncul Melayu pada abad ke 6 di Jambi sebagai pusat peradaban, dan seterusnya Sriwijaya tempil sebagai kekuatan maritim utama di Nusantara. Sekalipun Kerinci tidak lagi merupakan pusat melayu dan menjadi daerah pinggran dari kerajaan-kerajaan Hindhu - Budha Sumatera, sampai kepada zaman kerajaan-kerajaan islam.

Lintasan Sejarah Kerinci

Pembentukan bangsa indonesia adalah akibat perjalanan sejarah Asia Tenggara (Hindia Belakang), yang berlangsung beberapa kali periode. Pertebaran bangsa Austronesia (Melayu Tua) berlangsung dalam zaman Prahistoria (Prasejarah) dan dapat dibuktikan dengan peninggalan kapak batu yang serupa di daerah-daerah asia tenggara.

Menurut kemajuan perkakas yang dapat digali dari dalam tanah, maka prasejarah Neolitikum Indonesia dapat ditetapkan bermula 3.500 sampai 4.000 tahun sebelum Nabi Isa (Sebelum Masehi), atau lebih tegas lagi paling sedikit sudah 6.000 tahun terdahulu.

Alat-alat masa neolitikum yang ditemukan di daerah kerinci terbuat dari bahan batu seperti kapak, beliung, serut, punusuk, belincung, batu inti, cakram beralur dan serpihan-serpihan obsidian. Alat-alat budaya lainnya lesung batu, lumpang, batu persegi empat, gerabah bermotif paddle mark terbuat dari tanah liat yang dibakar dan perhiasan manik-manik berwarna dari bahan batu akik darah.

Khusus mengenai serpihan obsidian yang ditemui dikerinci disebut menjadi inti dari kebudayaan alat serpih (Flakes Culture) termasuk dalam zaman Mesolitikm. Mesolitikum ialah zaman peralihan antara Paleolitikum (Batu Tua) dan Neolitikum (Batu Baru). Obsidian adalah sejenis batuan vulkanis serupa kaca berwarna hitam, bila dipecahkan dapat mebentuk sisi-sisi yang sangat tajam. Serpih Obsidian dipergunakan oleh manusia zaman prasejarah untuk kegiatan sehari-hari, dalam kehidupan bercocok tanam dan mengolah hasil buruan.

Sebaran alat-alat serpih obsidian berikut dengan pecahan-pecahan gerabah di daerah kerinci, dapat ditemukan pada lokasi yang sangat luas. terutama dalam wilayah Kecamatan Gunung Raya. sekeliling Danau Kerinci dan sepanjang dataran aliran sungai Batang Merangin menunjukkan bangsa Austronesia (Melayu Tua) yang bermukim di daerah kerinci dengan inti kebudayaan alat-alat serpihan obsidian (Flakes Culture) dan teknologi pembuatan gerabah yang maju dengan pemberian warna merah dsamping pola hias yang beragam. Kehidupan prasejarah ini berlangsung antara 6.000-2000 tahun SM, bahkan kebudayaan alat-alat serpih berlangsung sampai ke zaman perunggu dan pemakaian alat-alat besi.

Peninggalan yang ditemukan di Kerinci

Peninggalan lain yang ditemukan di Kerinci sejenis menhir dari batu, keadaannya sangat unik karena belum pernah ditemukan dilain daerah di Indonesia. Batu ini berbentuk silinder (silindrik), dengan posisi tidur atau tergeletak di atas permukaan tanah, keadaan di Kerinci seolah-olah adanya penyimpangan dari tradisi megalitik yang terdapat di Indonesia. Batu silindrik tersebut ada yang berelief dan ada pula yang polos tanpa motif sama sekali. Banguna megalitik (batu besar) selalu berdasarkan kepercayaan akan adanya hubungan antara yang hidup dan yang mati, terutama kepercayaan kepada adanya pengaruh kuat dari yang telah mati terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman. Benda-benda peninggalan dari tradisi megalitik yang terdapat di kerinci menunjukkan suatu tipe tradisi purba yang bersifat local geneus dan mencerminkan kemampuan berkreasi masyarakat pendukungnya.

Saat sekarang batu silindrik yang ada di Kerinci sebanyak tujuh buah, ada yang bermotif manusia kangkang, matahari, lingkarang gong, sulur, garis-garis simetris, garis ganda bentuk oval dan manusia berwujud raksasa. Ada juga yang polos tanpa motif apapun, secara kronologis berasal dari masa 6.000 tahun SM, temuan serupa terdapat di India satu buah(Survei tradisi megalitik Kecamatan Gunung raya, Soejono, R.P, Prof.Dr: 1994). Ukuran silindrik juga bervariasi, seperti Batu Patah di Muak memiliki ukuran panjang 4.20 m, lebar 1m dan tinggi 1,7m. Sebuah monolit ialah gajah, kerbau, kerbau, kuda, anjing dan manusia bermahkota.

Bukti tertua lain yang ditemukan di daerah Kerinci berupa keramik kuno dari masa pemerintahan Dinasti Han di Cina (202 SM hingga 221 M), temuan ini berbentuk guci, mangkuk bergagang, guci bertutup dan sebuah tempayan berkaki tiga tempat menyimpan abu jenazah. Adanya keramik kuno (Han) di daerah kerinci memberi dugaan kepada kita akan kemampuan penduduk prasejarah Kerinci mengadakan hubungan timbal balik dengan perantau daratan Cina, baik dalam bentuk tukar-menukar barang ataupun kegiatan dagang. Selain keramik han di Kerinci juga ditemua keramik Tangm Sung, Yuan, Ming dan Qing, walaupun bentuk temuan tersebut berupa fragmentaris.

Baca Juga: Kenduri Sko Sebagai Warisan Budaya Kerinci

Topografi

Pada umumnya keadaan topografi Kabupaten Kerinci terbentuk dataran bergelombang. Terdiri dari lembah dataran tinggi dan mata rantai pergunungan Bukit Barisan Sumatera. Daerarah Kerinci menurut bentang alamnya dapat dibagi atas tiga bagian yaitu :

  1. Tanah pergunungan bahagian barat.
  2. Tanah pergunungan bahagian timur.
  3. Lembah dataran tinggi yang berada di tengahnya

Menurut pakar geologi lembah Kerinci (enclave) terbentuk karena adanya penurunan Bukit Barisan. Air yang terdapat di lereng-lereng gunung di sekitar lembah Kerinci yang menghiasi keindahan kerinci, mengisi lembah ini sehingga membentuk sebuah danau besar. Dengan adanya gejala-gejala alam selama ribuan tahun, danau besar tadi menjadi Danau Kerinci. Sekarang dan airnya mengalir lewat sungai Batang Merangin. Daerah ini terkena alur patahan Sumatera. Secara periodic dapat terjadi gempa tektonik sebagai akibat gerakan bagian-bagian dari lithosfera yang mendapat tekanan horizontal berlawanan arah.

Kondisi alam Kabupaten Kerinci masih banyak di tutupi oleh hutan lindung yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) seluas 210.000 ha (51%) dari luas Kabupaten Kerinci. Sungai-sungai dalam ukuran sedang (lebar 20-40m) antara lain adalah Batang Merangin, Batang Sangir, Sungai Betung, Sungai Sikai, Sungai Abu, Batang Siulak, Batang Merao, Batang Tapan, Sungai Bungkal, Batang Tebo, Air Limat, Air Penetai dan Lainnya.

Iklim

Keindahan Kerinci di pengaruhi oleh iklim kawasan hutan TNKS yaitu beriklim tropika basah. Dengan curah hujan relative tinggi termasuk iklim tipe AF, kecuali pada cekungan lembah Kerinci iklim tipe Am. Rata-rata curah hujan mencapai 3.085,5 mm/tahun. Kelembaban udara berkisar antara 78 sampai 86 MmHg. Suhu rata-rata pada dataran lembah Kerinci minimum 17,40 C maksimum mencapai 27,60 C (sumber : Stasiun Meteorologi & Geofisika Kab.Kerinci).

Curah hujan maksimum terjadi pada bulan November dan Desember, kunjungan wisata terbaik di Kabupaten Kerinci pada bulan Juni sampai Agustus. Keadaan udara belum tercemar oleh polusi industri, Kabupaten Kerinci sangat tepat untuk peristirahatan melepas lelah dari hingar bingar perkotaan. Daerah Kabupaten Kerinci yang berudara sejuk, suhu berkisar antara 180C sampai 22,60 C, dengan curah hujan rata-rata 2.500 mm/tahun. Iklim serta Kabupaten Kerinci terletak pada ketinggian 725 mdpl hingga 1.500 mdpl, menjadikan daerah ini sebagai lumbung padi Provinsi Jambi. Penduduk Kerinci hidup dari sector pertanian dan perkebunan.

Kependudukan Kerinci

Penduduk asli kerinci berasal dari Ras Proto Melayu (Monggoloid). Pupolasi mereka pada zaman prasejarah sangat banyak, penduduk Proto melayu ini menjadi induk yang menurunkan suku Kerinci. Perkembangan penduduk Kerinci sekarang sudah merupakan asimilasi dari suku lainnya di Indonesian, terutama suku bangsa Indonesia bagian Barat. Daerah Kerinci yang mempunyai luas areal 4.200 km2 itu, berpenduduk sekitar 300.370 jiwa (sumber : Data BPS Kabupaten Kerinci). Pemukiman penduduk yang mendiami Kerinci sebelum tahun 1903 merupakan satu kerajaan diperintahi oleh Depati IV Delapan Helai Kain Alam Kerinci.

Yang di maksud kerajaan disini bukanlah merupakan satu pemerintahan yang di perintahi oleh raja (dinasti) yang turun temurun. Tetapi adalah pemerintahan adat yang disebut Depati IV Pemangku Lima Delapan Helai Kain.

Kerinci Pegawai Rajo Pegawai Jenang Suluh Bindang Alam Kerinci. Pemerintahan ini lah yang di hadapan Belanda pada tahun 1930. Raja atau Depati disini adalah panggilan sko, karena tugas Depati di setiap dusun memegang pucuk pimpinan tertinggi dalam peraturan adat. Sebelum penjajahan belanda masuk, masyrakat hidup dengan damai sentosa menjalankan syariat agama islam.

Masyarakat dipimpin oleh golongan 4 jenis, yaitu ulama, kaum adat, cerdik pandai dan pemuda. Penduduk kerinci adalah penduduk yang amat fanatic terhadap agama islam. Ini terbuki dengan adanya masjid sebanyak 167 buah, langgar sebanyak 297 buah. Kefanatikan beragama terutama agama islam ini masih tertanam dalam jiwa masyarakat Kerinci sampai sekrang. Unsur kebudayaan islam berkembang dengan pesat, yang menjadikan dasar kebudayaan dan adat istiadatnya. Kehidupan masyarakat Kerinci bersama kemuliaan golongan adat bagi anak kemenakan di dusun-dusun mempunyai tanggung jawab besar terhadap perkembangan penduduk Kerinci.

Keindahan kerinci bukan saja dikarenakan oleh banyaknya objek wisata, namun kerinci juga kaya akan budaya yang

5/5 (3 Reviews)

You may also like

Leave a Comment