Home Renungan Proses Penyusunan Al-qur'an

Proses Penyusunan Al-qur'an

by Rhobie
Proses Penyusunan Al-qur'an

Proses Penyusunan Al-qur’an : Al-qur’an adalah Wahyu Allah yang turun kepada Muhammad SAW menjadi pedoman untuk umat manusia. Segala masa lalu, masa sekarang, dan masa akan datang dijelaskan dengan lengkap di dalam alqur’an. Bahkan semua masalah ilmu pengetahuan pun sudah ada di dalam alqur’an. Ayat-ayat Alqur’an memiliki sastra yang sangat tinggi, penggunaannya yang sangat indah menjadi salah satu bentuk mukjizat dari alquran itu sendiri.

Baca Juga; Sejarah Agama Islam di Masa Lampau

Sepanjang Periode Mekkah

Pada dasarnya ayat al-qur’ an tertulis semenjak mula pertumbuhan islam, walaupun warga yang baru lahir itu mengidap bermacam kasus akibat kekejaman yang dilancarkan oleh pihak kafir quraish. Berikut ini cerita Umar bin khattab semenjak dia masuk islam.

Suatu hari Umar keluar rumah mebawa sebilah pedang mau menewaskan Rasulullah. Sebagian sahabat tengah berkumpul dalam satu buah rumah di bukit Safa. Jumlah mereka kurang lebih empat puluhan termasuk kalangan perempuan. Di antara lain merupakan paman Nabi Muhammad, Hamza, Abu Bakr, All, dan jua yang lain yang tidak berangkat berhijrah ke Ethiopia. Nuaim secara tidak sengaja berpapasan dan bertanya ke mana‘ Umar hendak pergi." Saya hendak menghabisi Muhammad, manusia yang sudah membikin orang Quraish khianat terhadap agama nenek moyang serta mereka tercabik-cabik serta dia( Muhammad) mencaci maki tata metode kehidupan, agama, serta tuhan- tuhan kami. Saat ini bakal saya libas dia."" Engkau cuma hendak menipu diri sendiri Umar, katanya". " Bila engkau menyangka kalau bani Abd Manaf mengizinkanmu menapak di bumi ini hendak memutus nyawa Muhammad, lebih baik kembali temui keluarga kamu serta selesaikan perkara mereka.

Baca Juga: cara menjadi muslim sejati

"Umar kembali sembari bingung apa yang sudah mengenai keluarganya. Nuaim menanggapi, " Kerabat ipar, keponakan yang bernama Said dan adik perempuanmu sudah menjajaki agama baru yang dibawa Nabi Muhammad. Oleh sebab itu, hendak lebih baik bila kamu kembali menghubungi mereka". Umar cepat- cepat memburu iparnya di rumah, tempat Khabba lagi membaca Surah Taha dari sepotong tulisan Al-Qur'an. Dikala mereka dengar suara Umar, Khabba lari masuk ke kamar, sedang Fatima mengambil kertas kulit yang bertuliskan Al-Qur an serta diletakkan di bawah pahanya.

Kemarahan Umar terus menjadi membara begitu mendengar saudara-saudaranya masuk Islam. Kemauan menewaskan orang yang sebagian dikala saat sebelum itu dia tuju semakin menjadi jadi. Permasalahan utama dalam cerita ini berkaitan dengan kulit kertas bertulisan Al-Quran, Menurut Ibn Abbas ayat-ayat yang diturunkan di Mekah terekam dalam wujud tulisan sejak dari sana, semacam bisa dilihat dalam perkataan az-Zuhri. Abdullah bin Sad bin Abi as-Sarh, seseorang yang ikut serta dalam penyusunan Al-Quran sewaktu dalam periode ini, dituduh oleh sebagian golongan bagaikan pemalsu ayat-ayat Al-Quran( sesuatu tuduhan yang semacam sudah aku jelaskan sama sekali tidak berdasar). Orang lain bagaikan penulis resmi ialah Khalid bin Said bin al-‘As di mana dia menarangkan, "Aku orang pertama yang menulis Bismillah ar-Rahman ar-Rahim (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)".

Baca Juga: Seperi Hati Burung

Al- Kattani mencatat kejadian ini: Sewaktu Rafi’ bin Malik al-Ansari mendatangi baiah al-Aqaba, Nabi Muhammad menyerahkan seluruh ayat- ayat yang diturunkan pada dasawarsa tadinya. Kala kembali ke Madinah, Rafi’ mengumpulkan seluruh anggota sukunya serta membacakan di depan mereka.

Sepanjang Periode Madinah

Penulis Wahyu Rasulullah

Pada periode Madinah kita mempunyai lumayan banyak data termasuk sejumlah nama, lebih kurang enam puluh lima sahabat yang ditugaskan oleh Nabi Muhammad berperan selaku penulis wahyu. Mereka ialah Abban bin Said, Abu Umama, Abu Ayyub al- Ansari, Abu Bakr as-Siddiq, Abu Hudhaifa, Abu Sufyan, Abu Salama, Abu Abbas, Ubayy bin Kab, al-Arqam, Usaid bin al- Hudair, Aus, Buraida, Bashir, Thabit bin Qais, Jafar bin Abi Talib, Jahm bin Sad, Suhaim, Hatib, Hudhaifa, Husain, Hanzala, Huwaitib, Khalid bin Said, Khalid bin al- Walid, az-Zubair bin al-Awwam, Zubair bin Arqam, Zaid bin Thabit, Sad bin ar- Rabi, Said bin Ubada, Said bin Sadi, Shurahbil bin Hasna, Talha,Amir bin Fuhaira, Abbas, Abdullah bin al-Arqam, Abdullah bin Abi Bakr, Abdullah bin Rawaha, Abdullah bin Zaid, Abdullah bin Sad, Abdullah bin Abdullah, Abdullah bin Amr, Uthman bin Affan, Uqba, al-Ala bin Uqba, All bin Abi Talib, Umar bin al- Khattab, Amr bin al-As, Muhammad bin Maslama, Muadh bin Jabal, Muawiya, Man bin Adi, Muaqib bin Mughira, Mundhir, Muhajir, serta Yazid bin Abi Sufyan.

Rasulullah Mendiktekan Al-Qur'an

Saat rasulullah menerima wahyu, Nabi selalu memanggil para penulis untuk mencatat ayat itu. Zaid bin Thabit menceritakan sebagai ganti atau mewakili peranan dalam Nabi Muhammad, la sering kali dipanggil diberi tugas penulisan saat wahyu turun. Sewaktu ayat al-jihad turun, Nabi Muhammad memanggil Zaid bin Thabit membawa tinta dan alat tulis dan kemudian mendiktekannya: 'Amr bin Um-Maktum al-A'ma duduk menanyakan kepada Nabi Muhammad, "Bagaimana tentang saya? Karena saya sebagai orang yang buta." Dan kemudian turun ayat, "ghair uli al-darar" (bagi orang­orang yang bukan catat). Tampaknya tak ada bukti pengecekan ulang setelah mendiktekan. Saat tugas penulisan selesai, Zaid membaca ulang di depan Nabi Muhammad agar yakin tak ada sisipan kata lain yang masuk ke dalam teks.

Tradisi Penulisan Al-Qur'an dikalangan sahabat

Praktik yang biasa berlaku di kalangan para sahabat tentang penulisan AI­Qur'an, menyebabkan Nabi Muhammad melarang orang-orang menulis sesuatu darinya kecuali Al-Qur'an, "dan siapa yang telah menulis sesuatu dariku selain Al-Qur'an, maka la harus menghapusnya." Beliau ingin agar Al-Qur'an dan hadith tidak ditulis pada halaman kertas yang sama agar tidak terjadi campur aduk serta kekeliruan. Sebenarnya bagi mereka yang tak dapat menulis selalu hadir juga di masjid memegang kertas kulit dan minta orang lain secara suka rela mau menuliskan ayat Al-Qur'an. Berdasarkan kebiasaan Nabi Muhammad memanggil juru tulis ayat-ayat yang baru turun, kita dapat menarik anggapan bahwa pada masa kehidupan beliau seluruh Al-Qur'an sudah tersedia dalam bentuk tulisan.

Susunan Al-Qur'an

Susunan Ayat ke dalam Surah

Diakui secara umum bahwa susunan ayat dan surah dalam Al-Qur'an memiliki keunikan yang luar biasa. Susunannya tidak secara urutan saat wahyu diturunkan dan subjek bahasan. Rahasianya hanya Allah Yang Mahatahu, karena Dia sebagai pemilik kitab tersebut. Jika seseorang akan bertindak sebagai editor menyusun kembali kata-kata buku orang lain misalnya, mengubah urutan kalimat akan mudah memengaruhi seluruh isinya. Hasil akhir tidak dapat diberikan pada pengarang karena hanya sang pencipta yang berhak mengubah kata-kata dan materi guna menjaga hak-haknya.

Demikian halnya Kitab Allah, karena Dia sebagai pencipta tunggal clan Dia sendiri yang memiliki wewenang mutlak menyusun seluruh materi. Al­Qur'an sangat tegas dalam masalah ini: "Sesungguhnya atas tanggungan Kami mengumpulkan (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami menjelaskannya”.

Maka guna menjelaskan isi kandungan ayat-ayat itu, Allah menugaskan Nabi Muhammad sebagai penerima mandat. Dalam hal ini Al-Qur' an memberi penjelasan: "Dan Kami telah turunkan kepada engkau (Muhammad) berupa peringatan agar engkau menjelaskan kepada manusia apa-apa yang telah diturunkan pada mereka".

Hak istimewa ini, Allah berikan wewenang atau hak otoritas pada Nabi Muhammad agar memberi penjelasan pada umatnya. Hanya Nabi Muhammad, melalui keistimewaan dan wahyu ketuhanan, yang dianggap mampu menyusun ayat-ayat ke dalam bentuk keunikan Al-Qur'an sesuai kehendak dan rahasia Allah. Bukan komunitas Muslim secara kolektif dan bukan pula perorangan memiliki legitimasi kata akhir dalam menyusun Kitab Allah.  

Kitab Al-Qur'an mencakup surah-surah panjang dan yang terpendek terdiri atas 3 ayat, sedangkan paling panjang 286 ayat. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi Muhammad memberi instruksi kepada para penulis tentang letak ayat pada setiap surah. Uthman menjelaskan baik wahyu itu mencakup ayat panjang maupun satu ayat terpisah, Nabi Muhammad selalu memanggil penulisnya clan berkata, "Letakkan ayat-ayat tersebut ke dalam surah sepetrti yang beliau sebut". Zaid bin Thabit menegaskan, "Kami akan kumpulkan Al-Qur'an di depan Nabi Muhammad". Menurut Uthman bin Abi al-'As, Malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad memberi perintah akan penempatan ayat tertentu.

  • Uthman bin AM al-‘As melaporkan bahwa saat sedang duduk bersama Nabi Muhammad ketika beliau memalingkan padangan pada satu titik dan kemudian berkata, "Malaikat Jibril menemuiku dan meminta agar menempatkan ayat ini:
  • AI-Kalbi melaporkan dari Abu Sufyan tentang Ibn ‘Abbas tentang ayat:
"Dan Peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah"

Ia menjelaskan, "Ini adalah ayat terakhir yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Malaikat Jibril turun dan minta meletakannya setelah ayat ke dua ratus delapan puluh dalam Surah al-Baqarah."

  • Ubbay bin Ka'b menjelaskan, "Kadang-kadang permulaan surah itu diwahyukan pada Nabi Muhammad, kemudian saya menuliskannya, dan wahyu yang lain turun pada beliau lalu berkata, "Ubbay! Tulislah ini dalam surah yang menyebut ini dan itu.' Dalam kesempatan lain wahyu diturunkan pada beliau dan saya menunggu perintah yang hendak diberi­kan sehingga beliau memberi tahu tempat yang sesuai dari suatu ayat
  • Zaid bin Thabit memberi penjelasan, "Sewaktu kami bersama Nabi Muhammad mengumpulkan Al-Qur'an kertas kulit beliau berkata, "Mudah-mudahan Sham mendapat berkah"Kemudian beliau ditanya, 'Mengapa demikian wahai Nabi Allah?' Beliau menjawab, 'Karena para Malaikat yang Maha Rahman telah melebarkan sayap mereka kepada­nya."Dalam hadith ini kita catat Nabi Muharnmad selalu melakukan pengawasan dalam pengumpulan dan susunan ayat-ayat Qur'an
  • Kita dapat melihat bukti yang sangat jelas bahwa bacaan surah dalam shalat lima waktu. Tidak boleh bacaan umum menyalahi urutan ayat-ayat yang telah disepakati dan tidak pernah terjadi peristiwa shalat berjamaah akan adanya perbedaan pendapat dengan imam tentang urutan ayat-ayat baik di masa Nabi Muhammad maupun sekarang. Nabi Muhammad kadang-kadang membaca satu surah sampai habis pada shalat jum'ah.

Bukti lain dapat dilacak dari beberapa hadith yang mengatakan kepada sahabat telah mengenal permulaan dan akhiran surah-surah yang ada:

  • Nabi Muhammad memberi komentar kepada ‘Umar, "Akhir ayat-ayat dari Surah an-Nisa' akan dianggap cukup buatmu (dalam menyelesaikan masa]ah warisan). "
  • Abu Mas'ud al-Badri memberi laporan bahwa Nabi Muhammad bersabda, 'Ayat terakhir dari Surah al-Baqarah dapat mencukupi bagi siapa saja yang membaca di waktu malam."
  • Ibn `Abbas mengingatkan, "Sewaktu saya bermalam di rumah, Maimuna (istri Nabi Muhammad), saya mendengar beliau terbangun dari tidur lalu membaca sepuluh ayat terakhir dari Surah `Ali ‘Imran."

Referensi: Dikutip dari Ebook The history of The Quranic Text. Prof. Dr. M.M Al A'zami

5/5 (1 Review)
Summary
Proses Penyusunan Al-qur'an
Article Name
Proses Penyusunan Al-qur'an
Description
Proses Penyusunan Al-qur’an : Al-qur’an adalah Wahyu Allah yang turun kepada Muhammad SAW menjadi pedoman untuk umat manusia. Segala masa lalu, masa sekarang, dan masa akan datang dijelaskan dengan lengkap di dalam alqur’an
Author
Publisher Name
Ayo Nongkrong
Publisher Logo

You may also like

Leave a Comment