Home Seni Budaya Situs Peninggalan Nenek Moyang Kerinci

Situs Peninggalan Nenek Moyang Kerinci

by Rhobie
Situs Peninggalan nenek moyang kerinci

Situs peninggalan nenek moyang kerinci - Masa Prasejarah menurut Prof H .Idris Jakfar, SH di Alam Kerinci (Seri Sejarah Kerinci I, hal 69) dimulai sejak permulaan adanya manusia sampai ditemukan adanya keterangan tertulis tentang kehidupan “Kecik Wok Gedang Wok”. Manusia tertua ini diperkirakan telah ada di alam Kerinci sejak 35.000.SM. Tetapi penelitian yang dilakukan oleh Anthony J. Whitten (1973) di Goa Tiangko yang berada di wilayah Kecamatan Sungai Manau Kabupaten Merangin dari hasil temuan ini di­pastikan manusia Kecik Wok Gedang Wok telah ada di Alam Kerinci sejak 10.000 SM. Walau masa kuno telah berlalu, tetapi peninggalan nenek moyang kerinci sampai sekarang masih ditemui pada sejumlah situs batu tua, batu tengah, maupun zaman batu baru.

Baca Juga: Kenduri Sko Warisan Budaya Kerinci

ayonongkrong.com

Situs Batu Silindrik Kumun Mudik Kerinci

Situs Batu kerinci di Kumun mudik termasuk peninggalan nenek moyang kerinci yang terletak di Dusun Kumun mudik, Desa Ulu Air, Kota Sungai Penuh. Secara astronomis berada pada koordinat 02º06’12.97” LS dan 101º22’42.16” BT. Situs Peninggalan Nenek Moyang Kerinci berupa Tinggalan megalitik ini berupa batu silindrik yang berbentuk bulat memanjang. Pada bagian ujungnya dipangkas sehingga menyerupai bentuk gendang. Batu silindrik ini berukuran 2,05 x 0,7 x 0,85 m. Seluruh bagian permukaannya, kecuali bagian bawah, dihias pahatan berbentuk tonjolan. Motif hias lain yang dipahatkan pada batu ini adalah geometris pada sisi-sisinya, manusia kangkang pada sisi kanan, kiri, dan atas, serta sulur-suluran dan spiral pada sisi kanan dan kiri. Batu silindrik ini terletak di tengah ladang sekitar 100 m dari Sungai Kemuan, ketinggian 865 mdpl. Orientasinya adalah arah barat laut, yakni menghadap ke bukit adam.

Situs Batu Silindrik Kumun Mudik
Situs Batu Silindrik Kumun Mudik

Situs Kompleks Menhir Pendung Mudik

Peninggalan nenek moyang kerinci lainnya adalah Situs Pendung mudik terletak di Dusun Baru, Desa Pendung Mudik, Kecamatan Air Hangat, Kabupaten Kerinci. Secara as­tronomis berada pada koordinat 01º57’17.84” LS dan 101º23’38.92” BT, berada di Bukit Koto Payung Sumurup. Pada sisi barat sekitar 20 m mengalir Sungai Gedang Pendung. Tinggalan tradisi megalitik yang ada di situs ini berupa kompleks menhir atau batu tegak. Dalam kebudayaan prasejarah, menhir di­percaya bagian dari kegiatan ritual penghormatan terhadap arwah nenek moyang. Di Situs Pendung mudik terdapat sepuluh kelompok menhir yang berdiri di atas punden batu dengan ukuran dan jumlah yang berbeda-beda. Tiap-tiap kelompok bertebaran dengan radius 1000 m persegi.

Baca Juga: Tari Asyeik Seni Budaya yang harus dijaga

Situs Batu Bergambar di Jerangkang Tinggi Desa Muak

Situs Muak terletak di perkampungan kuno Jerangkang Tinggi, Desa Muak, Kecamatan Batang Merangin, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Secara astronomis berada pada Koordinat 02º10’56.76” LS dan 101º32’50.27” BT. Situs ini terletak di perkampungan penduduk yang berada pada ketinggian 910 m di atas permukaan laut. Berada sekitar 500 m dari Sungai Jernih dan 2 km dari Danau Kerinci. Jenis tinggalan megalitik, yaitu lumpang batu dan batu monolit.

Lumpang batu berbentuk persegi tidak beraturan dengan ukuran 72 x 60 x 25 cm. Di atasnya terdapat lubang yang menyempit ke bawah dengan diameter 30 cm. Selain lubang lumpang, juga terdapat lubang dakon sebanyak 8 buah dengan diameter 4-8 cm. Di sebelah lumpang batu terdapat batu monolit yang berbentuk lonjong tidak beraturan dengan ukuran tinggi 35 cm dan diameter 66 cm. Pada seluruh permu­kaannya terdapat pahatan berbentuk manusia, kuda, gajah, kerbau, anjing, dan tumbuhan sulur-suluran.

Benda cagar budaya Monilit ini menurut Iskandar Zakaria sebelum tahun 1960 dikawasan lain dalam wilayah Jerangkang Tinggi (Desa Muak) diletakkan masyarakat di pintu masuk dusun, dan pada tahun 1993 benda budaya ini dipindahkan ketempat yang lebih aman sekitar 100 meter dari simpang tiga jalan masuk ke dusun, pemerintah pada saat itu membangun cungkup untuk pengamanan.

Benda peninggalan zaman Prasejarah ini dibuat oleh masyarakat masa lampu erat kaitannya dengan kepercayaan nenek moyang suku Kerinci yang mempercayai kekuatan roh roh, batu berelief ini merupakan media pemujaan bagi masyarakat suku Kerinci di masa prasejarah.

Situs Batu Bergambar di Jerangkang Tinggi Desa Muak

Situs Batu Silindris Pondok

Situs Pondok terletak di Dusun Pondok, Desa Pondok, Kecamatan Batang Merangin, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Secara astronomis berada pada koordinat 02º15’24.32” LS dan 101º33’55.14” BT. Situs ini terletak di tengah pematang yang berada pada ketinggian 960 m di atas permukaan laut. Tinggalan megalitik yang terdapat di situs ini berupa batu silindrik (penduduk menyebut dengan batu bedil, batu larung, batu gong, batu meriam). Batu tersebut berbentuk bulat, memanjang dengan ukuran 4,2 x 0,65 x 0,7 m. Pada bagian ujung dan kedua sisi permukaan terdapat hiasan motif spiral, semacam lingkaran-lingkaran yang makin mengecil pada bagian tengah. Kini kondisi batu silindrik tersebut sudah patah pada bagian tengah, oleh karena itu masyarakat setempat juga menyebut Batupatah.Tinggalan batu silindrik ini tidak berdiri sendiri, karena tidak jauh dari tempat berdirinya juga ditemukan deretan batu bulat yang menyerupai umpak.

Situs batu silindris pondok

Situs Silindrik Pulau Sangkar

Situs Pulau­sangkar terletak di Desa Pulau Sangkar, Keca­matan Batang Merangin, Ka­bupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Secara astron­omis berada pada koordinat 02º09’43.78” LS dan 101º35’24.32” BT. Situs ini be­rada pada ketinggian 895 m di atas permukaan laut, sekitar 100 m dari tepi Sungai Paun. Tinggalan megalitik yang ada di situs ini berupa batu silindrik yang berbentuk bulat memanjang dengan ukuran 3,9 x 1 x 0,8 m dan menghadap ke arah tenggara, yakni puncak Bukit Muak.

Baca Juga: Suku Melayu tertua itu kerinci

Situs Batu Silindrik Bukit Talang Pulai

Situs Bukit Talang pulai, terletak di Dusun Koto Baru, Desa Jujun, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Secara astronomis berada pada koordinat 02º10’40.54” LS dan 101º28’14.59” BT. Situs ini terletak di atas Bukit Talang Pulai dengan ketinggian 995 m di atas permukaan laut. Tinggalan megalitik yang ada di situs ini berupa batu silindrik yang berbentuk bulat memanjang dengan ukuran 1,5 x 0,98 x 1,2 m. Sisi depan dihias pahatan berbentuk manusia memakai penutup dada (kemben). Sedangkan sisi belakang dihias pahatan ber­bentuk manusia memegang semacam gada dan memakai kain sarung. Batu silindrik tersebut tersebut dikelilingi oleh sejumlah batu datar yang membentuk susunan tertentu. Tinggalan arkeologi yang terkait dengan keberadaan batu silindrik tersebut adalah ditemukannya sejumlah frag­men gerabah baik polos maupun berhias tatap tali. Diperkirakan bagian dari sisa aktivitas pemukiman kehidupan prasejarah yang ber­langsung pada waktu itu.

Dolmen Pulau Tengah Situs Batu Kerinci

Situs Dolmen Pulau Tengah terletak di Desa Pulau Tengah, Ke­camatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Secara astronomis berada pada koordinat 02º09’51.89” LS dan 101º27’42.16” BT. Situs Dolmen ini berada pada ketinggian 850 mdpl, sekitar 50 m di dekat aliran Sungai Labo, tepatnya di tepi jalan raya Desa Pulau Tengah.

Tiga domen tersebut, yakni: Dolmen 1, merupakan dolmen yang terbesar dengan ukuran 1,4 x 0,78 x 0,15 m. Dolmen tersebut terbuat dari batu andesit yang ditopang oleh enam kaki (empat di sisi kiri dan dua di sisi kanan) dengan orien­tasi timur laut. Dolmen 2 terletak di sebelah utara dolmen 1 dengan ukuran 1,66 x 1,1 x 0,35 m. Dolmen tersebut ditopang oleh 4 kaki dengan orientasi timurlaut. Di bagian tengah atas permukaan terdapat 2 buah lubang dakon dengan diameter 3,5 dan 6,5 cm, dan dalam 1 dan 3,5 cm. Dolmen 3 terletak di sebelah barat daya, sekitar 2 m dari dolmen 1. Dolmen ini berbentuk melengkung dan licin pada bagian permukaan atasnya dengan ukuran 1 x 0,65 x 0,15 m, serta ditopang oleh 2 buah kaki.

Situs dolmen pulau tengah peninggalan nenek moyang kerinci
Situs Dolmen Pulau Tengah

Situs Batu Silindrik Lolo Kecil

Situs Lolo ke­cil terletak di Desa Lolo Kecil, Kecamatan Gu­nung Raya, Ka­bupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Secara astrono­mis berada pada koordinat 02º13’30.81” LS dan 101º30’40.54” BT, kedudukannya berda pematang sawah dengan ketinggian 1030 mdpl. Tinggalan megalitik yang ada di situs ini berupa batu silindrik yang berbentuk bulat memanjang dengan ukuran 4,4 x 1,5 x 0,78 m dan berorientasi ke arah tenggara. Batu silindrik ini dikenal dengan batu bedil, karena bentuknya seperti laras bedil yang makin mengecil pada bagian ujungnya.

Situs Silindrik Lempur Mudik

Situs Lempur mudik terletak di Dusun Cempaka tunggal, Desa Lempur mudik, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Secara astronomis berada pada koordinat 02º15’16.22” LS dan 101º32’34.05” BT. Situs ini berada di pematang sawah dengan keting­gian 980 m di atas permukaan laut, sekitar 300 m dari aliran Sungai Lempur. Tinggalan megalitik yang ada di situs ini berupa batu silindrik yang berbentuk bulat memanjang dengan ukuran 3,45 x 0,9 x 0,62 m dan menghadap ke arah timur laut. Pada permukaan bagian atas terdapat tonjolan serta lubang berdiameter 10 cm dengan kedalaman 17 cm, sedangkan pada bagian belakangnya diberi pahatan berbentuk lingkaran spiral.

Situs Batu Kerinci Batu Silindrik Lolo Gedang

Situs Lologedang terletak di Desa Lolo Gedang, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Tinggalan megalitik yang ada di situs ini berupa batu silindrik yang salah satu ujungnya berbentuk bulat runcing. Pada ujung yang lebar terdapat hiasan berbentuk lingkaran spiral. Sementara, pada kedua sisinya terdapat hiasan yang berupa 6 buah lingkaran spiral dan relief manusia kangkang.

Situs Batu Silindrik Lolo Gedang

Situs Siulak Panjang (Gedang)

Situs Siulak Panjang (Gedang) terletak di Desa Siulak Panjang (Ge­dang), Kecamatan Gunung Kerinci, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi yang secara astronomis berada pada koordinat 01º54’11.35” LS dan 101º17’42.16” BT.Kepurbakalaan yang ada di situs ini berupa menhir dan bedug /tabuh. Menhir yang ada di situs ini berupa sebuah batu pipih yang berbentuk kerucut (semakin ke atas semakin kecil) setinggi 1,55 m dan berdiameter 0,5 m. Menhir ini berorientasi ke puncak Gunung Kerinci. Saat ini salah satu sisinya ditempel nisan dari semen yang berbentuk persegi panjang yang arsitekturnya menyerupai punden berundak berukuran 1,8 x 1,4 m.

Baca Juga: Pahlawan Depati Parbo Pemimpin Perjuagan Rakyat Kerinci

Situs Batu Kerinci "Kursi Lempur Mudik"

Situs Batu Kursi atau Palinggiuh terbuat dari batuan andesit merupakan sarana pemujaan penduduk Kerinci pada zaman Prasejarah terhadap roh roh leluhur/nenek moyang. Pengamatan di lokasi terlihat batu ini sudah berpindah tempat dari lokasi awal. Pemindahan kedudukan batu “Palinggih” karena adanya pembukaan jalan di daerah itu. Batu memiliki kesamaan seperti kursi, pada batu ini tidak terlihat adanya motif. Diduga batu ini dibuat belum mengalami campur tangan manu­sia, karena fungsinya sebagai tempat pemujaan maka batu Palinggih ini menjadi objek pemujaan yang sangat penting pada masa itu. Palinggih dalam bentuk sederhana dapat kita temukan pada situs situs prasejarah berupa susunan batu mirip kursi sehingga disebut juga Stone Seat ( Tahta Batu). Batu sejenis ini banyak ditemui pada pura pura agama Hindu dan Budha. Menurut kalangan budayawan batu ini dulunya merupakan tempat pertapa para Pendera Hindu/Budha untuk mendekatkan diri kepada sang Pencipta.

Situs Batu Kerinci "Sorban dan Batu Jung"

Situs Batu kerinci lainnya adalah Situs Batu Sorban berada dipinggiran Desa Sungai Liuk Kota Sungai Penuh. Dari pengamatan penulis batu megalitik ini posisinya membujur kearah Utara dan Selatan menghadap ke Gunung Kerinci. Diatas batu tampak hiasan seperti Sorban yang dibentangkan. Menurut masyarakat setempat batu ini adalah tempat beribadah nenek moyang. Dan diatas ketinggian bukit sekitar 250 meter terdapat makam “Nenek Telago Undang Koto Bingin”. Pada zaman dahulu lokasi disekitar daerah ini merupakan situs pemukiman masyarakat purba salah satu tempat pemukiman nenek moyang orang Kerinci. Batu Jung berada di wilayah Desa Kemantan Kebalai Kecamatan Air Hangat Timur. Batu andesit ini memiliki ukuran panjang 3,40 meter Lebar 1,37 Meter Tinggi 1,10 meter. Karena bentuknya seperti perahu maka oleh masyarakat batu ini disebut batu Jung.

Disamping Batu ini terdapat dua buah batu datar dan batu batu lain yang disebut batu tapak. Pada zaman dahulu batu ini berfungsi sebagai tangga untuk naik ke sebuah balai adat. Penggalian di sekitar daerah ini tepatnya di bawah lantai sebuah mesjid ditemui susunan pondasi dari batu batu datar. Kuat dugaan di lokasi ini pada zaman dahulu berdiri sebuah bangunan Kuno yang megah dan lantai terdiri dari susunan batu andesit dengan bangunan terbuat dari material kayu.

Gong Bisu dan Tabuh Larangan peninggalan nenek moyang kerinci

Gong Bisu menurut kepercayaan masa lampau gong bisu ini hanya dapat berbunyi pada waktu-waktu tertentu. Dan di Kota Sungai Penuh terdapat beberapa Beduk/Tabuh Larangan, di antara Tabuh Larangan tersebut yakni:

  1. Empat buah Tabuh Larangan terdapat di wilayah adat Pon­dok Tinggi, dua diantara Tabuh Larangan berada di dalam Mesjid Agung Pondok Tinggi, 1 Tabuh berada di dalam komplek hala­man Mesjid Agung dan 1 buah di Mushalla Nurul Falah Pondok Tinggi.
  2. Dua Tabuh Larangan terdapat dalam wilayah adat Limo Luhah Dusun Sungai Penuh Masing masing berada di Luhah Datuk Singarapi Putih dan Luhah Rio Temenggung.

Benda peninggalan Sejarah dan Kebudayaan lainnya yang berada di Kota Sungai Penuh (Manaf Ripin dan Afitra Jaya, SH) diantaranya adanya temuan gigi manusia purba di daerah Koto Beringin Kumun. Se­mentara itu di daerah dusun Sungai Liuk terdapat “Sumur Beremas”. Sumur purba ini dengan diameter 3 meter. Menurut legenda masyarakat setempat di dalam sumur purba ini terdapat emas seukuran kuda. Menurut kepercayaan masyarakat setempat sumur purba ini dihuni “Sawo Pandak (Ular Sawo pendek)”. Uniknya pada musim kemarau sumur ini tidak pernah kering dan sebagian masyarakat mempercayai sumur ini memiliki khasiat untuk pengobatan.

Jika masih ada peninggalan-peninggalan lainnya mohon isi di kolom komentar untuk melengkapi tulisan ini.

Referensi: Buku Sejarah dan Kebudayaan Kerinci, wilkipedia

5/5 (3 Reviews)

You may also like

Leave a Comment