Home Umum Srikandi Kerinci Perjuangan Hj. Fatimah Melawan Penjajah

Srikandi Kerinci Perjuangan Hj. Fatimah Melawan Penjajah

by Rhobie
Srikandi Kerinci Perjuangan Hj. Fatimah Melawan Penjajah

Srikandi Kerinci, Perjuangan Hj Fatimah Melawan Penjajah. Dalam tiap periode perjuangan di tiap wilayah sering lahir wujud tokoh Srikandi yang rela turut berjuang mengangkat senjata menghadapi musuh. Pada masa perjuangan secara nasional diketahui tokoh pejuang perempuan semacam Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Rohana Kudus. Serta di Bumi alam Kerinci pada masa mula perjuangan mengalami imprealis Belanda jua mempunyai wujud srikandi. Perempuan berani yang rela mempertaruhkan jiwa serta raga buat merebut kemerdekaan, Dia ialah Hj. Fatimah.

Baca Juga: Situs Peninggalan Nenek Moyang Kerinci

Hj. Fatimah Srikandi Pejuang Kerinci

Hj. Fatimah merupakan Seseorang Pejuang Srikandi Kerinci dikala perang melawan penjajahan Belanda. Beliau adalah kerabat sepupu Kasib (Depati Parbo). Dia lahir di Desa Lolo Kecil, memiliki suami bernama Canai Gelar Orang Tuo Lingkat yang berasal dari Lempur dan mereka tidak mempunyai anak. Disaat dia memohon suaminya buat menikahi kerabat dekatnya bernama Tampung orang Lolo Gedang dengan tujuan supaya memperoleh generasi selaku penyambung silsilah keluarga.

Pada tahun 1902 suami beliau sakit (Canai Gelar Orang Tuo Lingkat) dan dirawat di Lempur. Alasandirawat di Lempur karna pada masa itu di Lolo kondisinya tidak nyaman sebab perang yang terus digulirkan serta di Lolo Gedang ialah Pusat Pertahanan (Benteng) dikala perang melawan Belanda. Pengungsian ke Dusun Lempur Tengah merupakan pilihan sebab tentara Belanda masuk ke Kerinci melalui Koto Limau lewat Tapan, Muaro Emat yang dari Bangko, serta tanpa diketahui Belanda pula menyerang dari Muko-muko lewat Lempur.

Tongkrongin Juga: Kenduri Sko Sebagai Warisan Budaya Kerinci

ayonongkrong.com

Bangkitnya dendam Srikandi Kerinci

Sangat Tragis, Dikala itu tempat suaminya Hj. Fatimah dirawat seketika diserbu Belanda. Suami beliau wafat tertembak oleh Pasukan Belanda. Banyak penduduk yang tidak berdosa turut menjadi korban keganasan dari tentara belanda.

Menemukan kabar yang tak terbayangkan tersebut membangkitkan kebencian serta semagat juang Hj. Fatimah wanita pemeberani kerinci bersama pendekar-pendekar lain. Dia bergabung dengan para Hulubalang Kerinci dibawah pimpinan Depati Parbo dengan memakai senjata tradisional. Hj. Fatimah dengan tekad yang membara serta dendam kepada Belanda turut mengendalikan siasat perang. Dia tidak segan- segan berada di garda depan menyambut tentara belanda.

Tongkrongin Juga: Masjid Tua Di Kerinci

ayonongkrong.com

Dalam pertempuran yang terjalin di dusun Lolo serta Lempur, pasukan Belanda yang berjumlah 500 orang berangkat mengarah daerah Lolo. Disebuah dusun yang bernama Lolo kecil pasukan Hulubalang yang dipandu Panglima Perang Depati Parbo dengan taktik gerilya sudah menunggu serdadu Belanda yang bergerak maju mengarah Lolo. Pertempuran sengit tidak terelakkan. Pasukan cukup berimbang, para pejuang serta penjajah silih berhadapan satu lawan satu. Walaupun diantara pasukan Belanda ada pasukan bayaran dari bangsa sendiri, sehingga dalam keadaan semacam ini para pejuang tanpa pandang bulu memerangi prajurit Belanda.

Wanita Pemberani Hj. Fatimah

Dengan semangat pantang menyerah, Depati Parbo dengan gagah berani sanggup membunuh berlusin-lusin pasukan belanda dengan tangannya sendiri. Pertempuran di Dusun Lolo Kecil berlangsung sepanjang 3 hari. Sengitnya pertempuran memforsir para perempuan, orang tua serta kanak-kanak diungsikan ke bukit- bukit dalam daerah kubu pertahanan. Memandang darah para pejuang yang membasahi Bumi Ranoh Kincay membuat geram Srikandi Kerinci Hj. Fatimah.

Wanita pemberani dengan sikap waspada bersenjata tombak di pintu gerbang dusun Lolo mengintai pasukan Belanda. Dikala merambah gerbang Lolo Hj. Fatimah dengan semangat menyala-menyala hanya bersenjatakan tombak menghantam pasukan Belanda. Keberaniannya tidak percuma, sebab dengan tangannya Hj. Fatimah sanggup membunuh 4 orang pasukan belanda. Apalagi seseorang perwira belanda berpangkat Letnan berhasil ditewaskannya.

Baca Juga: Tari Rangguk Tarian Tradisional Kerinci

ayonongkrong.com

Gugur nya Pahlawan Srikandi Kerinci

Memandang 4 orang pasukan Belanda sukses ditewaskan oleh seseorang patriot perempuan, membuat pasukan Belanda jadi beringas, dengan membabi buta mereka memuntahkan peluru kepada Hj. Fatimah sehingga dia gugur. Hj. Fatimah meninggal secara syahid. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman umum keluarga di Dusun Lolo. Kejadian itu membuat pasukan Belanda mendidih. Sehingga dengan membabi buta pasukkan Belanda melaksanakan pembalasan. Puluhan rumah rakyat, lumbung padi serta ternak jadi korban serta terbakar habis oleh pasukan Belanda

Keadaan yang terus menjadi memanas membuat Depati Parbo terpaksa mengendalikan siasat. Atas perintahnya para hulubalang serta pasukkan pejuang mundur ke kubu pertahanan. Sedangkan serdadu Belanda melanjutkan ekspedisi mengarah arah Lempur. Di situ para pejuang serta hulubalang alam Kerinci dibawah kepemimpinan Depati Agung dengan gagah perkasa menunggu kehadiran pasukkan Belanda. Tetapi dikarenakan jumlah serdadu Belanda sangat banyak, bila dihadapi satu lawan satu pasti kewalahan, hingga Depati Agung memerintahkan pasukkan pejuang buat mundur serta bertahan dalam kubu pertahanan.

Belanda mengira pasukan pejuang alam Kerinci khawatir menghadapi tentara Belanda. Serta mereka tidak mendeteksi satu orangpun pejuang berada di dusun. Sehabis beberapa waktu melepas letih, kesimpulannya serdadi Belanda meninggalkan Dusun Lempur serta balik kanan mengarah dusun Pulau tengah. Di Pulau tengah kondisi masih siang, para petani serta warga Pulau Tengah dikala itu tengah mengerjakan lahan pertanian di sawah. Sebab merasa tidak siap menghadapi Belanda yang bersenjata lengkap, masyarakat Pulau Tengah menyelamatkan diri. Mereke ke balik bukit-bukit menjauhi pertumpahan darah serta pengorbanan yang sia sia.

Demi memandang situasi warga yang panik, sebagian orang serdadu Belanda mengejek orang Pulau Tengah dengan berkata” Pulau Tengah istri Lolo” maksudnya tidak jantan semacam orang Bodoh. Sindiran itu sangat menyakitkan hati hulubalang hulubalang Pulau Tengah. Dalam hati mereka rasanya berkata nanti tunggu saatnya datang kami hendak basmi serdadu Belanda. Dari Pulau Tengah Serdadu Belanda melanjutkan ekspedisi ke hamparan Rawang, serta menyangka wilayah telah nyaman. Para hulubalang tidak mampu menghadapi Belanda. Sementara itu sebetulnya para pejuang dipandu Depati Parbo tengah menyusun strategi serta mengendalikan siasat buat melaksanakan serbuan berikutnya.

Tongkrongin juga: Tari Asyek Seni Budaya Kerinci yang harus dijaga

Situasi setelah gugurnya Hj Fatimah

Walaupun kondisi daerah relatif nyaman serta tidak terdapat gejolak peperangan, namun rasa sakit hati para hulubalang Pulau Tengah terhadap serdadu Belanda masih membara. Mereka menunggu saatnya buat meyakinkan keberanian mereka. Sehabis menuntaskan pekerjaan menggarap lahan persawahan, para hulubalang serta para pejuang Dusun Pulau Tengah, pemangku adat, alim ulama serta warga bersepakat buat bersama sama menghancurkan Belanda.

Pada waktu bertepatan Depati Parbo lagi bertahan di wilayah ulu air Lolo dibawah gunung kunyit. Pada saat Depati Parbo seperti menyamar menjadi petani turun gunung menemui para hulubalang serta pemimpin perang rakyat Pulau Tengah. Depati Parbo tiba buat membagikan petunjuk serta mengendalikan siasat dan membagikan sokongan moral serta semangat kepada para pejuang Pulau Tengah. Mereka berjuang mati matian mempertahankan negara Pulau Tengah yang ialah Benteng terakhir dari sejarah perjuangan rakyat alam Kerinci.

Pendirian Benteng Pertahanan di Pulau Tengah Kerinci

H. Ismail seseorang ulama terkemuka asal dusun Koto Tuo Pulau Tengah serta diketahui bagaikan Imam perang mengomandani peperangan. Buat formasi bertahan para pejuang membangun 5 buah benteng pertahanan masing masing:

  1. Benteng pertahanan awal terletak wilayah Telaga antara Pulau Tengah- Jujun. Benteng Ini dibawah pimpinan Bilal Sengak dengan sebagian tokoh pejuang yang siap tempur serta Berani mati.
  2. Benteng pertahanan di Koto putih dengan hulubalang hulubalang serta Pemuda opsi dipandu H. Sultan. Didalam Benteng ini ada seseorang orang tua bernama H. Mat Serak
  3. Benteng ketiga terletak di Lubuk Pagar yang dipandu oleh H. Husin dibantu Mat Pekat
  4. Benteng keempat ialah Benteng pertahanan yang terletak di Sungai Buai. Dibawah kepemimpinan Depati Gayur serta H. Syukur
  5. Benteng kelima dipandu seseorang perempuan bernama Fatimah Jura. Benteng ini terletak dipinggir danau merupakan benteng pertahanan perempuan. Benteng di Danau dibentuk dari bambu yang sudah diisi batu serta ditanam rapat disetiap muara. di Benteng ini seluruh perempuan tanpa kecuali wajib bertahan di dalam benteng. Kecuali kalangan perempuan yang mempunyai anak umur bayi yang diizinkan tinggal didalam dusun.

Di Pulau Tengah diketahui banyak memilki Hulubalang hulubalang, diantara hulubalang yang pemberani ada nama nama semacam H. Mesir, Depati Gento Menggalo, Depati Mudo, H. Syafri. Sedangkan para hulubalang berlatih ilmu beladiri, sebagian diantara penduduk Dusun Baru danKotoTuo Pulau Tengah menggali Lobang bagaikan tempat persembunyian serta tempat proteksi untuk anak anak serta perempuan, lobang lobang pengamanan tersebut pula dimanfaatkan buat lumbung menaruh perbekalan santapan.

Gambaran Benteng Pulau Tengah Kerinci

Sebagian Benteng pertahanan terdapat yang dibuat dari batu yang diperkuat dengan senjata lenting yang dibuat dari bambu serta dipa¬sang ranjau jebakkan. Negara Pulau Tengah memanglah sangat strategis serta ialah salah satu basis perjuangan gerilya para pejuang serta Hulubalang, dibelakang dusun ada bukit bukit yang penuh dengan hutan rimbun, air sungai mengalir bening dicelah bebatuan yang licin. serta dihadapan bukit terbentang danau Kerinci. Jalur jalur di wilayah benteng pertahanan dikala itu sangat susah dilewati serta disepanjang areal perbukitan dilindungi ketat oleh para hulubalang serta pemuda pejuang yang tangguh.

Pulau Tengah yang terdiri dari sebagian dusun ialah kawasan sangat strategis untuk para pejuang buat melaksanakan perjuangan, para serdadu Belanda dalam bermacam kejadian peperangan sangat kewalahan dalam mengalami para hulubalang serta pejuang, rakyat Pu¬lau Tengah baik tua muda, laki- laki perempuan yang merasa lumayan usia tanpa diperintahkan terjun lansung ke medan peperangan. Hampirdisetiap jalur serta titik vital senantiasa dilindungi oleh para hulubalang hulubalang.

Medan peperangan di kawasan Pulau Tengah sangat menantang, para hulubalang dari dusun dusun lain di luar Pulau Tengah yang belum puas mengalami serdadu Belanda di dusun mereka masing masing, dengan semangat berkobar tiba ke Pulau Tengah buat bergabung bersama para hulubalang Pulau Tengah berperang mengalami Belanda yang ialah musuh bersama. Pada dikala itu penduduk Negara Pulau Tengah cuma berjumlah 2. 000 orang, jumlah ini terus menjadi meningkat dengan kedatangan ratusan hulubalang yang berdatangan dari tiap penjuru dusun di alam Kerinci.

Pembangunan benteng benteng pertahanan di Pulau Tengah ber¬lansung sepanjang 1 Bulan, sehabis merasa lumayan kokoh Imam perang Pulau Tengah H. Ismail mengirimkan 2 orang utusan buat menghadap Komandan serdadu Belanda yang bermarkas di Rawang buat me¬nyampaikan kalau hulubalang serta pejuang pejuang Pulau Tengah melaporkan secara terbuka siap melawan Belanda. Mendengar perkataan utusan dari Pulau Tengah, hingga Overste Bense mengirim pesan kepada pimpinan pejuang di Pulau Tengah yang intinya memerintahkan supaya senjata lekas dikumpulkan serta diserahkan kepada Belanda, kontan para pejuang dalam suratnya dengan tegas menolak ntuk menyerahkan senjata kepada Belanda.

5/5 (1 Review)
Summary
Srikandi Kerinci Perjuangan Hj. Fatimah Melawan Penjajah
Article Name
Srikandi Kerinci Perjuangan Hj. Fatimah Melawan Penjajah
Description
Srikandi Kerinci, Perjuangan Hj Fatimah Melawan Penjajah. Perempuan berani yang rela mempertaruhkan jiwa serta raga buat merebut kemerdekaan
Author
Publisher Name
Ayo Nongkrong
Publisher Logo

You may also like

Leave a Comment