Home Seni Budaya Tari Asyek Seni Budaya Kerinci yang harus dijaga

Tari Asyek Seni Budaya Kerinci yang harus dijaga

by Rhobie
Tari Asyek Seni Budaya Kerinci

Tari Asyek Kerinci

Tari Asyek Seni Budaya Kerinci yang harus dijaga – Tari asyeik merupakan sebuah tarian purba yang telah tumbuh sejak zaman purba. Tarian ini telah ada saat nenek moyang suku kerinci menganut animisme, dinamisme. Asyeik merupakan sebuah tradisi megalitik yang menganut kepercayaan roh-roh nenek moyang masyarakat pada masa prasejarah. Perlengkapan tarian ini berupa sesajian nasi putih, lepat, nasi kuning, nasi hitam, lemang, bunga tujuh warna, warna sembilan. Peralatan yang digunakan yaitu aria pinang, keris, kain tenunan kerinci, cembuing putih, piring putih. Dalam sesajian harus ada satu ekor ayam hitam atau ayam putih ayam panggang, dan kelapa tumbuh.

Tarian ini memiliki beberapa episode yakni acar “Nyerau” atau “Nyaho”, “Masouk Bumoi”, “Mujoi Gureu”, “Minotak Brkeh (minta berkah)” dan “Magelih Sajin (Memberikan sesajian)”. Tari Asyeik pada zaman dahulu dilakukan selama satu minggu. Berbagai persiapan dilakukan oleh dukun atau “Bilian Salih”, orang yang berobat (keluarganya). Pada tingkatan proses akhir roh-roh nenek moyang akan memasuki sukma pengunjung atau orang yang berobat. Saat roh nenek moyang memasuki jiwa maka tubuh mereka menjadi ringan, mereka dapat memanjat bambu, menari diatas pecahan kaca.

tari asyek
Sumber: majalahkomite.wordpress.com

Baca juga: Kenduri Sko sebagai warisan kebudayaan kerinci

Saat ini Tari Asyeik tidak lagi dijadikan sebagai acara pemujaan atau persembahan terhadap roh-roh nenek moyang. Akan tetapi telah dikreasikan menjadi seni tari pertunjukan untuk memperkaya khasanah kebudayaan Alam Kerinci. Sebuah kekhawatiran muncul karena cepat atau lambat upacara tradisional ini akan lenyap dimakan zaman. Dilain pihak pengaruh modernisasi dan globalisasi di segala sektor dalam kehidupan masyarakat membuat masyarakat kerinci lebih berpikir praktis, kritis dan logis. Kebudayaan yang telah dilakukan secara turun temurun ikut terambah oleh kemajuan zaman. Satu persatu peninggalan kebudayaan masa lampau akan terkubur dan digantikan ileh kebudayaan baru.

Fenomena Tari Asyek

Tari Asyek memiliki ragam makna dan keindahan di dalamnya. Ritual Asyeik merupakan tradisi dan fenomena budaya masyarakat kerinci. Ritual Asyeik merupakan tradisi yang turun temurun karena tradisi ini merupakan warisan budaya nenek moyang, dengan tujuan mempererat hubungan antar warga masyarakat. Tradisi ini dipandang sebagai sebuah kesenian yang kompleks. Kompleksitas ini terlihat dari berbagai unsur kesenian yang mengikat, seperti adanya unsur gerak (tari), seni musik (vokal), sastra.

Tari Asyek adalah upacara sakral, yakni pemanggilan roh nenek moyang. Upacara sakral ini dilakukan dengan melibatkan orang-orang tertentu, seperti orang-orang yang memiliki kekuatan magis yang disebut dengan dukun.

Asal Usul Tari Asyeik

Ritual Asyeik merupakan salah satu tradisi yang lahir sebagai hasil karya secara kolektif (bersama) yang bila dilihat dari cara pelaksanaannya. Asyeik berasal dari kepercayaan animisme dan dinamisme. Menurut Nasution (1974, 12-13) bahwa paham dinamisme mengandung kepercayaan kepada suatu benda yang mempunyai suatu kekuatan gaib yang disebut mana atau tuah, kekuatan gaib tersebut ada yang bersifat baik dan ada yang bersifat jahat. Sedangkan paham Animisme adalah suatu paham yang mengandung kepercayaan bahwa setiap benda mempunyai roh atau jiwa.  Dari kedua paham tersebut, dunia gaib bisa dihadapi manusia dengan berbagai macam perasaan seperti perasaan cinta, hormat, bakti tetapi juga takut, ngeri dan sebagainya. Perasaan-perasaan tersebut mendorong manusia untuk melakukan berbagai perbuatan yang bertujuan mencari hubungan dengan dunia gaib (Koentjaraningrat 1974, 252).

Asyeik (dibaca dalam dialek Kerinci) berasal dari bahasa kuno Kerinci yang berarti yakin, dengan kerendahan hati, atau dengan sungguh sungguh”.  Asyeik berasal dari tradisi nenek moyang sejak ribuan tahun lalu sebelum agama Islam masuk ke Kerinci. Hal ini dibuktikan pula oleh adanya peninggalan dari zaman prasejarah dari desa Jujun, Kerinci yaitu batu berbentuk silinder dimana terdapat ukiran gambar manusia yang sedang menari di salah satu ujung batu tersebut.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa masyarakat Kerinci sebelum Islam menganut paham animisme dan dinamisme dimana di dalam paham tersebut, terdapat suatu upacara untuk pemujaan terhadap benda-benda dan roh-roh yang mempunyai kekuatan gaib yang disebut tari asyeik .

Perkembangan ritual Asyeik setelah masuknya pengaruh Islam

Sebagian besar sejarawan dan budayawan Kerinci berpendapat bahwa Islam masuk ke wilayah Kerinci dibawa oleh ulama-ulama dari Minangkabau. Dijumpai dalam TK 08 (Voorhoeve 1941) bahwa Syaikh Samilullah yang berasal dari Minangkabau merupakan penyebar Islam dan nenek Moyang orang-orang di wilayah Mendapo Lima Dusun, Sungai Penuh. Ja'afar (1989, 12) menyebut bahwa tujuh orang ulama yang mengembangkan agama Islam di seluruh wilayah alam Kerinci yaitu Siak Jelir di Koto Jering berdakwah di wilayah Siulak, Siak Rajo di wilayah Kemantan, Siak Alim di Koto Beringin Sungai Liuk berdakwah di sekitar wilayah pesisir bukit hingga Depati Tujuh, Siak Lengih di Pondok Tinggi berdakwah di Sungai Penuh hingga ke Rawang, Siak Sakti di Hiang Sitinjau laut, Siak Barebut Sakti di Tarutung dan Siak Haji di daerah Lunang, Kabupaten Pesisir Selatan sekarang.

Asyeik yang pada mulanya dilakukan dengan nyanyian berupa puji-pujian kepada ruh nenek moyang, tarian untuk pemujaan disertai dengan sesajian. Setelah masuknya agama Islam, dilengkapi dengan membaca do'a secara Islam, mantra-mantra yang diucapkan dan sesajian yang digunakanpun ikut tercampur dengan unsur keislaman walaupun tata cara pelaksanaannya secara umum tidak berubah.

Tahap-tahap pelaksanaan Asyeik

Tahap pelaksanaan asyeik yaitu tahap persiapan, tahap mempersembahkan sesajian, tahap mengasapi sesajian dengan kemenyan (ngasap), tahap mengukur sesajian dengan benang (ngito), tahap memanggil arwah orang-orang suci (ngiman), tahap inti ritual Asyeik.

Tahap Persiapan Ritual Asyeik

Tahap persiapan merupakan tahapan yang dilakukan untuk menyiapkan berbagai sesajian dan kebutuhan ritual lainnya yang diperlukan. Sesajian dalam ritual Asyeik sangat beragam dan banyak jenisya sesuai dengan tujuan dan jenis Asyeik yang dilaksanakan, akan tetapi ada sesajian umum yang selalu ada dalam setiap upacara ritual digelar. Sesajian umum tersebut adalah sebagai berikut:

Jikat

Unsur utama jikat adalah sejumlah beras Dari ukuran banyaknya beras, jikat digologkan dalam dua macam yaitu Jikat Gedang dan Jikat Kecik. Jikat kecik menggunakan takaran beras satu cupak (0,5 kg) sedangkan jikat gedang menggunakan takaran beras satu gantang (4 kg). Dalam ritual Asyeik jikat yang digunakan adalah jikat gedang.

Pada jikat gedang tidak hanya beras yang dijadikan sebagai unsur utama tetapi terdapat pula unsur-unsur lain yaitu

  1. Kain limo jito,  ini mengandung filosofi dan kesucian hati;
  2.  Keris;
  3. Benang sepuluh yaitu benang putih dari kapas yang dililit sebanyak sepuluh lilitan;
  4. gelang kuningan;
  5. uang seringgit (dua puluh lima ribu rupiah), besaran uang yang digunakan mengikuti perkembangan ekonomi, dulu seringgit hanya sebesar 2,5 rupiah. uang yang digunakan dahulunya mengikuti jumlah takaran emas yaitu emas sekundir;
  6.  cincin anye, yaitu cincin-cincin kecil yang dibuat dari bahan tembaga dan kuningan;
  7. perlengkapan sirih, pinang, tembaku, dan rokok dari daun enau (aren) sebagai simbol penghormatan untuk nenek moyang;
  8.  Al-Qur'an dan tasbih yang disebut dengan kitab gedang.

Sajin Ndah Sajin Tinggi

Sajin memiliki arti sesajian. Sajin dalam ritual Asyeik terbagi ke dalam dua kelompok besar yaitu sajin tinggi dan sajin ndah. Sajin tinggi terdiri dari:
(1) tiga ayam panggang yang berasal dari ayam berwarna hitam, ayam berwarna kuning dan ayam berwarna kuning
(2) lemang yaitu beras ketan yang dimasukkan dalam bambu dan dimasak di dekat perapian;
(3) Rendang Breh dan rendang bertih yaitu beras dan padi yang dimasak dalam kuali tanpa menggunakan minyak

Sajin ndah terdiri dari:
(1) juadah (Dodol),yaitu semacam makanan yang terbuat dari tepung ketan merah dan putih dan dibungkus dengan daun pisang;
(2) Pisang, pisang yang biasa digunakan adalah pisang dingin atau pisang ambon sebanyak tujuh atau lima sisir

Bungo Adum Tujuh Warno Sembilan

Bunga yang digunakan terdiri dari tujum jenis bunga yang disebut Adum Tujuh dan masing-masing bunga mewakili Sembilan warna (warno sembilan). Bunga-bunga tersebut dinamakan bungo cino, karamanding, bungo kembang alo, bungo cinano, bungo kembang setahun, bungo meh, bungo pandan, taripuk tebing, bungo untai, sepeleh ari, umput pusmat dan lain-lain. Bahkan ada bunga bunga khusus yang hanya digunakan pada ritual Asyeik tertentu. Selain, bunga-bungaan beragam jenis jeruk atau limau juga menjadi pelengkap sesajian yang ditaruh dalam mangkuk khusus. Beragam jenis jeruk tersebut antara lain: limau puhut, limau kapeh, dan limau kunci

Jamba

Jamba terdiri dari nasi putih yang berisi telur ayam kampung, gulai dan semacamnya yang ditaruh dalam empat buah piring beserta dengan air minumnya. Kadangkala nasi putih diganti dengan nasi punjung sebanyak tiga macam yaitu nasi punjung hitam, nasi punjung putih dan nasi punjung kuning. Nasi punjung hitam. Sajian nasi tersebut mirip dengan tumpeng dalam tradisi Jawa.

Ada pula sesajian dan alat tambahan yang disesuaikan dengan jenis ritual Asyeik yang diselenggarakan misalnya saja dalam ritual Asyeik ngayun luci diperlukan tambahan sejumlah Laho, dan media luci. Redap dan gong juga dipersiapkan sebagai alat musik untuk mengeringi tahapan inti ritual Asyeik. gong adalah alat musik pukul yang terbuat dari logam. Sementara itu, redap adalah jenis alat musik pukul yang terbuat dari kulit binatang yang dipasang pada bingkai kayu dengan ukuran tertentu.

Tahap mempersembahkan sesajian

Ritual Asyeik setidaknya dilakukan oleh tiga orang balian saleh dan dipimpin oleh seorang balian yang disebut balian tuo. Setelah sesajian diatur sedemikian rupa di salah satu bagian rumah paling bersih disebut dengan Luwan atau Luwen. Maka balian saleh tersebut akan memanggil ruh leluhur untuk mempersembahkan sesajian dengan mantra-mantra yang disenandungkan dengan irama yang khas. Setelah mantra selesai kemudian mengasapi setiap komponen sesajian dengan kemenyan sambil melakukan sedikit tarian disebut dengan ngasap. Kemudian dilanjut-kan dengan mengukur sesajian mengguna-kan benang sepuluh. Agaknya prosesi ini memiliki makna dan filosofi tertentu.

Tahap memanggil arwah orang suci

Balian saleh memanggil ruh leluhur yang dianggap sebagai orang suci sekaligus dianggap sebagai pembawa ajaran Islam secara khusus, tahapan ini disebut ngiman. Ruh leluhur yang dipanggil melalui mantra-mantra tersebut sangat kental dengan unsur Islamnya. Mungkin saja leluhur tersebut berhubungan erat dengan para ulama terdahulu yang menyebarkan Islam di Kerinci.

Tahap inti ritual asyeik

Ritual Asyeik diartikan sebagai nyanyian disertai tarian untuk upacara persembahan pada roh leluhur dengan dilengkapi sesajian. Balian Saleh akan menari diiringi oleh alunan redap yaitu rebana Kerinci dan pukulan gong. Alunan musik itu seirama dengan vokal mantra-mantra yang diucapkan dan gerakan tubuh Balian Saleh saat menari. Semakin cepat alunan musik semakin cepat pula gerakan tubuh serta mantra yang diucapkan oleh Balian Saleh. Mantra-mantra yang diucap-kan saat Asyeik disebut dengan Nyaro atau nyaho.

Tahapan Khusus

Tahapan ini berupa prosesi-prosesi tertentu sebagai prosesi tambahan dengan tidak mengurangi prosesi yang terdapat dalam tahapan umum. Misalnya saja ada tahapan Asyeik yang dilakukan sambil mengelilingi kampung, ada pula prosesi yang dilakukan dengan mengayun-ngayun alat ritual sambil melakukan Asyeik, ada pula Asyeik yang dilakukan dengan sabung ayam.

Jenis-Jenis Upacara Asyeik

Perbedaan antara ritual Asyeik satu dengan Asyeik yang lain terletak pada:
(1) tujuan ritual dilakukan;
(2) waktu pelaksanaan ritual;
(3) tempat pelaksanaan ritual;
(4) adanya prosesi-prosesi dan sesa-jian tambahan dalam tahapan khususnya tanpa menghilangkan atau mengurangi tahap-an umum yang wajib dilakukan. Jenis uapacara asyeik antara lain:

  • Asyeik Ngayun Luci, dilaksanakan pada masa padi mulai berisi. Tujuan dilaksanakan upacara ini adalah untuk memohon kepada leluhur untuk mengayomi padi, melindungi padi dari hama, dan mengembalikan semangat padi
  • Asyeik Tulak Bala, diselenggarakan pada bulan Muharram atau bulan Shafar menurut penanggalan Islam. Tujuan dilakukan upacara ini adalah untuk membuang energi negatif dan pengaruh jahat yang dapat menimbulkan bencana dalam desa dengan kata lain disebut dengan menolak Bala.
  • Asyeik Naik Mahligai, dilakukan untuk menobatkan para raja setelah menempuh berbagai ujian fisik seperti menginjak kaca, memadamkan api, meniti mata pedang, melewati mangkuk tujuh, dan lain sebagainya. Ada juga ritual naik mahligai dilakukan oleh para balian yang telah mencapai puncak tertinggi dalam ilmu spiritual dan kebatinan dalam berhubungan dengan ruh-ruh leluhur dan makhluk gaib lainnya.
  • Asyeik Nyabung, dilakukan oleh Balian untuk memohon kesembuhan kepada penguasa jagat raya.
  • Asyeik Nyambai, dilakukan di rumah Gedang Rajo Simpan Bumi desa Siulak Panjang yang bertujuan untuk memohon lamat (kesejahteraan) kepada ruh-ruh leluhur
  • Asyeik Mamujo Padang, dilakukan bertujuan untuk meminta izin kepada penguasa hutan yang disebut dengan dewo sebelum membuka areal hutan yang akan dijadikan sebagai area perladangan baru
  • Asyeik Tauh, dilakukan di Pasuguh Agung, Siulak Gedang. Biasanya dilakukan sebelum mandi balimau pada masa Kenduri Adat. Para Balian akan melakukan tarian dengan melingkari sesajian sambil memegang dan saling mengikat benang-benang putih yang disebut dengan Benang Sepuluh

Keunikan kebudayaan Kerinci diharapkan dapat dikelola dengan baik dan dijadikan sebagai asset budaya daerah untuk pembangunan pariwisata yang berbasis budaya dan kearifan lokal.

Dikutip dari beberapa sumber dan salah satu jurnal Hafiful Hadi Sunliensyar.

You may also like

Leave a Comment