Home Featured Uhang Pandak Sumatera Kerinci Antara Ghaib dan Nyata

Uhang Pandak Sumatera Kerinci Antara Ghaib dan Nyata

by Rhobie
uhang pandak sumatera kerinci

Uhang Pandak Sumatera Kerinci (Orang pendek)," lelaki pendek" dalam bahasa Melayu, digambarkan setinggi 4 - 5 kaki namun bertubuh kokoh dengan bahu lebar serta lengan berotot panjang. Penampakannya dia berjalan tegak semacam manusia. Badannya ditutupi dengan rambut gelap ataupun bercorak madu, serta bisa jadi mempunyai rambut panjang. Mereka tinggal di tengah hutan. Tapi ini tidaklah orang utan namun wujud makhluk misterius yang sampai dikala ini ilmuan masih mencari tahu tentang keberadaan dan kebenarannya. Mereka Ghaib atau Nyata?

Uhang Pandak Sumatera Kerinci

Pulau Sumatera di Indonesia merupakan pulau terbesar keenam di dunia. Tetapi sayang separuh hutan hujannya habis dibabat oleh penebang liar dalam kurun waktu terakhir ini. Keserakahan membuka lahan buat perkebunan kelapa sawit serta kopi. Walaupun demikian, di bagian barat pulau sumatera ini masih terdapat sebidang hutan yang luas. Antara lain adalah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). TNKS ialah hutan yang harus dilindungi demi melindungi bumi, menjaga titipin dari Allah SWT, sekalian menjadi lahan ilmu pengetahuan untuk umat manusia. Dari hutan inilah laporan tentang spesies kera berjalan tegak serta tidak dikenal oleh ilmu pengetahuan yang sudah ada sepanjang ratusan tahun.

Nongkrong baca: Persiapan Camping yang harus diperhatikan

https://www.ayonongkrong.com

Uhang Pandak Sumatera Kerinci adalah subyek pengetahuan di hutan hujan lebat Sumatera. Mereka Tinggal di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Karena habisnya hutan akibat pembakaran, penebangan dsb habitat orang pendek sangat susah ditemukan, sama halnya dengan harimau sumatera dan lainnya.

Fakta Uhang Pandak

Santapan uhang pandak (orang pendek) menurut informasi sebagian besar adalah buah-buahan, sayur-mayur, serta umbi-umbian. Namun sebagian saksi berkata mereka sempat menyaksikan uhang pandak (orang pendek) merobek batang kayu buat memperoleh larva serangga. Ada Juga yang berkata mereka memakan ikan, serta sebagian laporan mereka memakan daging badak mati yang jatuh ke dalam perangkap lubang.

Penduduk asli Kerinci (Sumatera umumnya), termasuk orang Sumatera modern generasi Melayu serta Orang Rimba ataupun Kubu - orang asli Sumatera - tidak menyebut Uhang Pandak merupakan wujud ghaib, tidak semacam roh nenek moyang yang menjelma bagaikan harimau, ular piton. Tetapi demikian, banyak orang rimba (Suku anak dalam) takut kepada orang pendek karena kekuatannya. Meskipun tidak dianggap agresif dan biasanya akan menjauh dari manusia mana pun yang dilihatnya. Mereka menggunakan batu dan tongkat sebagai senjata, melemparkannya ketika merasa terancam.

Asal Pengetahuan tentang makhluk itu kembali ke kabut sejarah. Terdapat beberapa nama lokal buat penamaan (panggilan) uhang pandak (orang pendek). Di dataran rendah tenggara diucap Sedapa ataupun Sedapak. Gugu merupakan nama di Sumatera selatan. Sebaliknya di kabupaten Rawas menamakan Atu Rimbu, Di Sumatera Barat menamakan uhang pandak Bunian. Di Bengkulu dikenal sebagai Sebaba. Saat ini makhluk ini dilaporkan cuma di bagian barat Pulau Sumatera, khusunya di serta dekat Halaman Nasional Kerinci Seblat.

Nongkrong Baca: Tips Sederhana camping untuk pemula

https://www.ayonongkrong.com

Awal Mula muncul tentang fenomena Uhang Pandak

Kabar tentang Uhang Pandak (Orang Pendek) awal kali mencapai barat pada dini abad ke-20 lewat penjajah Belanda. Pada tahun 1918, gubernur Sumatra LC Westenenk, mencatat kejadian pada tahun 1910: Seseorang anak pria dari Padang yang dipekerjakan sebagai pengawas oleh Van H harus mempertaruhkan batas-batas tanah yang sudah digunakan buat jangka waktu lama. Sesuatu hari ia bawa sebagian kuli ke hutan perawan di Bukit Barisan dekat Lubuk Selasih Sumatera Barat. Seketika ia memandang, dekat 15 m jauhnya, seekor makhluk besar, rendah kakinya, yang berlari semacam manusia… sangat berbulu serta bukan orang utan; tetapi mukanya tidak semacam wajah manusia biasa…"

Westenenk mencatat pertemuan lain. Pada tahun 1917, Tuan Oostingh Pemilik perkebunan kopi, di hutan pangkalan Bukit Kaba (Bengkulu) kala ia memandang wujud yang duduk di tanah dekat 30 kaki jauhnya. Bagi Oostingh: Badannya sama besar serta mempunyai bahu persegi yang tebal, tidak miring sama sekali. Wujudnya tidak cokelat, nampak semacam tanah hitam, semacam gelap berdebu, lebih abu-abu daripada gelap .

"Ia menatap tapjam, Ia tidak begitu banyak memutar kepalanya, namun berdiri di atas kakinya. Ia nampak tinggi seperti saya (sekitar 1, 75 meter). Kemudian saya melihat kalau itu bukan manusia, dan saya mulai kembali, sebab saya tidak bersenjata. Makhluk itu mengambil sebagian langkah, tanpa tergesa-gesa, setelah itu dengan lengan panjangnya yang menggelikan menggenggam tumbuhan muda serta dengan diam-diam melompat ke tumbuhan, berayun hebat melompat secara bergantian ke kanan serta ke kiri."

Penampakan itu berlanjut hingga tahun 1920. Pada Mei 1927, seorang pekerja perkebunan Belanda bernama AHW Cramer yang tinggal di Kerinci melaporkan melihat Uhang Pandak (orang pendek) hanya 10 meter. Rambutnya panjang dan kulitnya hitam. Binatang itu lari meninggalkan jejak kaki kecil seperti manusia. Pada tahun 1927 Uhang Pandak (orang pendek) dikatakan telah terperangkap dalam perangkap harimau tetapi terbebas. Jejak darah yang tersisa diperiksa oleh ahli zoologi KW Damerman yang menyimpulkan bahwa itu bukan dari beruang, siamang atau manusia.

Pada 1930-an perhatian ilmuwa (Publik) terhadap uhang pandak berkurang, mungkin sebagian karena pecahnya perang dunia kedua dan perjuangan Indonesia untuk kemerdekaan. Itu tidak disodorkan ke pandangan publik lagi sampai seorang wanita Inggris, Debbie Martyr, memulai penelitiannya pada akhir 1980-an.

Penelitian Uhang Pandak sumatera kerinci

Martir pertama kali mengunjungi Sumatera pada Juli 1989 sebagai penulis, dan ketika berkemah di lereng Gunung Kerinci, pemandu mereka, Jamruddin, menunjukkan daerah-daerah yang terlihat seperti badak dan harimau Sumatera. Kemudian, dengan santai, ia berkomentar bahwa dipegunungan berhutan sebelah timur Gunung Tujuh uhang pandak sumatera kerinci kadang terlihat. Ketika Debbie membuat komentar skeptis Jamruddin mengatakan kepadanya bahwa dia telah melihat orang pendek dua kali. Dia mengatakan itu masih umum, tetapi semakin jarang karena serangan petani. Martir tetap tinggal di Sumatra dan mulai mengumpulkan laporan saksi mata. Dia pernah melihat penampakan Uhang Pandak pada tahun 1990.

Pada waktu itu ia yakin bahwa ada sesuatu, bahwa itu bukan hanya cerita mitos. Dia melihat seekor binatang yang tidak pernah dilihat seperti apa pun di buku mana pun yang di baca, di film manapun yang telah di tonton, atau kebun binatang yang saya lihat. Itu memang berjalan seperti orang dan itu mengejutkan.

"Itu adalah primata yang relatif kecil, sangat kuat, non-manusia. Tapi itu sangat ganas, itu adalah hal yang aneh. Jadi jika Anda melihat binatang itu, Anda mungkin mengatakan bahwa itu menyerupai siamang atau siamang yang lincah menggunakan steroid! Itu tidak terlihat seperti orang utan. Proporsi mereka sangat berbeda. Itu diciptakan seperti petinju, dengan kekuatan tubuh bagian atas yang sangat besar. Itu adalah warna yang indah, bergerak secara bipedal dan berusaha untuk tidak terlihat".

Martyr, bersama dengan fotografer Jeremy Holden, memulai pencarian selama 15 tahun yang didanai oleh Fauna dan Flora International. Jeremy menggunakan perangkap kamera yang dipasang di hutan terpencil tetapi gagal menangkap gambar uhang pandak sumatera kerinci. Namun, dia melihat sekilas itu ketika dia memanjat punggungan di hutan, tetapi makhluk itu dengan cepat pindah. Dia hanya melihatnya dari belakang tetapi berjalan tegak seperti pria.

Pendapat para ilmuwan tentang keberadaan uhang pandak sumatera kerinci

Adam Davies, Andrew Sanderson dan Keith Townley telah menemukan dan membuat jejak kaki uhang pandak sumatera kerinci, dan mengumpulkan rambut di daerah Kerinci. Ahli biologi primata, Dr David Chivers dari Universitas Cambridge membandingkan uhang Pandak dengan para primata dan hewan lokal lainnya yang diketahui. Dia menyimpulkan bahwa itu pasti kera dengan perpaduan unik antara owa, utan, simpai, dan manusia. "Dari pemeriksaan lebih lanjut, cetakan itu tidak cocok dengan spesies primata mana pun yang diketahui dan disimpulkan bahwa ini mengarah pada keberadaan primata besar yang tidak dikenal di hutan Sumatera," lapornya.

Dr Hans Brunner ahli rambut mamalia membandingkan rambut/bulu dengan primata lain dan hewan lokal. Dia menyimpulkan bahwa uhang pandak sumatera kerinci berasal dari spesies primata yang sebelumnya tidak berdokumen.

Uhang pandak adalah kera besar yang terkait erat dengan orang utan. Dengan kata lain spesies ponginae yang belum ditemukan. Dalam semua wawancara yang dilakukan, mereka menggambarkan apa yang terdengar seperti kera daripada hominin: lengan panjang, bahu besar, leher kecil, banyak rambut tubuh, kaki pendek.

Tetapi mengapa, di hutan lebat, apakah uhang pandak berjalan tegak dan hidup di tanah? Martyr berpendapat bahwa makhluk itu menjadi bipedal setelah letusan supervolcano Toba sekitar 75.000 tahun yang lalu. Dia percaya asal usul evolusi uhang pandak sumatera yang berbeda lebih tua dari ini.

Ketika mereka datang ke hutan, mereka berjalan dengan dua kaki, tetapi di atas pohon mereka juga akan berjalan tegak di sepanjang cabang. Bipedalisme pernah dianggap berkembang di dataran Afrika Timur ketika hominid pertama kali meninggalkan hutan untuk mengeksploitasi sumber makanan baru sekitar 5 juta tahun yang lalu. Berdiri tegak, menurut teori, memberi mereka pandangan yang lebih baik tentang pemangsa potensial. Monyet vervet mendemonstrasikan perilaku semacam ini, merawatnya untuk mencari bahaya. Tapi sekarang tampaknya bipedalisme mungkin sudah mulai berevolusi di hutan.

Mitologi Uhang Pandak

Orang Pendek adalah bagian mitologi yang sangat populer. Banyak orang pribumi berbicara tentang interaksi dengan orang pendek misterius dari hutan. Beberapa mengatakan mereka tidak lebih besar dari seorang anak. Meskipun cerita tersebar luas, beberapa upaya oleh berbagai kelompok penelitian tidak dapat menemukan hasil apa pun. Kamera telah dipasang di daerah-daerah terpencil di hutan dengan harapan bisa melihat sekilas makhluk-makhluk yang sulit ditangkap ini.

Nongkrong Baca: Masjid Tua Di Kerinci

https://www.ayonongkrong.com

Apakah mereka hanya manusia dengan perawakan yang sangat pendek atau mereka adalah mata rantai yang hilang antara manusia dan primata? Akankah kita menemukan satu hidup atau mereka akan selalu menghilang ke dalam hutan untuk menyalakan api misteri? Apakah mereka nenek moyang Homo Floresiensis terus hidup tersembunyi selama 50.000 tahun terakhir?. Hutan hujan begitu lebat sehingga sangat mungkin Orang Pendek dapat menghindari deteksi dari manusia modern menjaga misteri hidup dan sehat.

Referensi: https://www.theguardian.com , https://tarumanagarafoundation.org

5/5 (1 Review)
Summary
Uhang Pandak Sumatera Kerinci Antara Ghaib dan Nyata
Article Name
Uhang Pandak Sumatera Kerinci Antara Ghaib dan Nyata
Description
Uhang Pandak Sumatera Kerinci atau Orang pendek setinggi 4 - 5 kaki. Makhluk misteri tinggal di hutan. Mereka ghaib atau nyata?
Author
Publisher Name
Ayo Nongkrong
Publisher Logo

You may also like

Leave a Comment